Perkembangan Sistem Pendidikan Pesantren

Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko menegaskan bahwa masjid adalah tempat ibadah kepada Allah, dan bukan tempat untuk memperjuangan politik praktis.

” Masjid bukanlah tempat yang tepat untuk membangun faksi-faksi dan memperjuangkan kepentingan politik praktis,” ujar Moeldoko ketika kunjungan ke Masjid Nurul Mu’min, Mataram, Nusa Tenggara Barat, sebagaimana dikutip dari siaran pers resmi KSP, Sabtu (10/3/2018).

Moeldoko menambahkan, ia mempunyai catatan mengenai 5.371 masjid yang ada di NTB.

Selain itu, Moeldoko mengingatkan, NTB mempunyai potensi alam yang luar biasa. Oleh sebab itu ia berharap masyarakat NTB harus bisa memanfaatkannya demi kesejahteraan dan kemakmuran sendiri.

Apalagi perkembangan teknologi kini sedemikian cepat. Banyak produk teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk menggali potensi yang ada di tengah rakyat demi memenangkan kompetisi global.

Dalam kunjungan tersebut, Moeldoko menyatakan kesannya terhadap Pondok Pesantren Nurul Haramain di Narmada, Mataram, NTB. Ketika menggunjungi pondok pesantren tersebut pada Jumat (9/3/2018) kemarin, Moeldoko kagum dengan pengembangan sistem pendidikan di sana.

Di Ponpes yang mengasuh 10.000 santri itu, ujian nasionalnya sudah berbasis komputer.

“Sebelum ujian nasional berbasis komputer diterapkan di tingkat nasional, kami yang lebih dahulu memulainya,” ujar TGH Hasanain, pengasuh Ponpes tersebut, kepada Moeldoko.

Ponpes juga telah mendigitalisasi buku-buku mereka. Saat ini, mereka memiliki 58.000 buku digital.

Para santri diajarkan pula bagaimana mengelola sampah. Setiap bulan, sampah-sampah itu menghasilkan uang. Melalui uang itulah santri bisa membayar tenaga pengolah sampah.

Para santri pun diajari hidup mandiri dengan diajarkan mengemudi mobil, berkebun dan disediakan pula stasiun radio sendiri sebagai laboratorium bekerja. Bahkan, santri yang telah memenuhi syarat diwajibkan mempunyai paspor. Artinya, mereka siap untuk menjadi penduduk global.

“Memang santri di sini ini disiapkan untuk menjawab tantangan dunia. Istilahnya, Nurul Haramain for the world,” ujar Hasanain.

Moeldoko bangga mendengar penjelasan itu. Menurut dia, masjid dan pondok pesantren memang sudah saatnya didesain seperti itu.

“Masjid dan pesantren dapat menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, selain ia menjadi tempat ibadah,” ujar Moeldoko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *